yang mulus

menatap langit biru

bertatih menghitung detik

dipangku kabut yang dingin

tika pagi masih remaja

kulit pantai nan bersih

dibasuh riuh ombak saban waktu

rambut air terjun yang lebat

berjuntaian disikat batu-batu

Ia adalah milik sementara

sebelum gerimis menerpa

menjadi manik-manik air mata

berguguran jatuh ke pipi senja

dan malam pun melabuhkan gelita

kulit adalah tanah

lama kelamaan akan kehilangan baja jelita

berganti kedut tua

dicermin ketakutan

bunga-bunga ilalang yang putih

berpapasan tumbuh di rambut usia

yang semakin gugur masa

seperti alam,

pucuk tidak tahu

pada suatu hari

ia akan menjadi dedaun kering

dan gugur ke tanah

disunting angin takdir

buah muda tidak tahu

ia akan gugur tiba-tiba

dari waktu yang dijangka

mencantas ceria

sungai hayat hanyir dan keruh

bilakah airnya akan bening

dari cedera dosa

untuk mengalirkan pahala jernih

insan mulia.

ABDULLAH SHUIB

Rawang