Kata putus pada 27 Jun ini (Khamis) berkait pertikaian keputusan Pilpres yang difailkan oleh tim Prabowo serta gandingannya, Sandiaga Uno, pertikaian yang mencetuskan ‘rusuhan berdarah’ di ibu kota Jakarta ketika membantah pemilihan semula Jokowi sebagai pentadbir negara untuk penggal seterusnya.

Pada 21 Mei lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan kemenangan Jokowi bersama gandingannya, Ma’ruf Amin apabila memperoleh le­bih 85 juta undi manakala pencabarnya dengan sekitar 68 juta undi.

Majoriti 16.95 juta undi diperoleh Jokowi itu lebih tinggi berbanding Pilpres 2014. Ketika itu Jokowi berganding dengan Jusuf Kalla mengalahkan Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa.

Ketika ini di Indonesia, sebelum MK memberikan kata putus, pelbagai analisis dan ‘ramalan’ diutarakan, apakah Jokowi masih sah untuk jawatan Pre­siden Indonesia seterusnya atau terpaksa menyerahkan tampuk pemerintahan kepada Prabowo.

Semuanya bermula apabila tim Prabowo menuding berlakunya penyelewengan dalam ‘perolehan suara’ semasa Pemilu pada 17 April lalu, dan mengangkat dakwaan tersebut ke MK.

Memetik kenyataan Pengarah Pusat Pengajian Konstitusi (Pusako), Feri Amsari di Tribun News, anak Padang, Suma­tera Barat ini jelas meramalkan kemungkinan untuk gandingan Prabowo-Sandiaga menang di MK adalah tipis.

Feri menilai tim undang-undang Prabowo-Sandiaga gagal menunjukkan bukti kuat untuk mendukung ‘pertikaian’ mereka terhadap perjalanan Pilpres.

Tak kurang dengan Ketua Konstitusi dan Demokrasi Inisiatif (Kode Inisiatif), Veri Junaidi yang menilai ‘dalil’ kubu Prabowo-Sandiaga kononnya ‘kecurangan’ (penipuan) Pilpres terjadi secara berstruktur, sistematik dan besar-besaran, tidak cukup bukti.

Pakar hukum tata negara, Bivitri Susanti pula melihat hakim MK banyak memberi kelonggaran kepada pasukan undang-undang Prabowo-San­diaga untuk memperbetulkan fail permohonan.

Menurut beliau, jika bukti tidak disusun dengan baik biasanya tidak akan diterima oleh hakim.

Demikian antara mereka yang menilai perjalanan kasus (kes) di MK, jelas memberikan gambaran awal yang memihak kepada kemenangan Jokowi-Ma’ruf untuk meneruskan agenda negara ke peringkat seterusnya.

Seperkara penting, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga dan Tim Kempen Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf sudah menyatakan ‘perjanjian’ untuk menerima apa jua keputusan di peringkat MK.

Komitmen seperti itu harus diterjemahkan sebaiknya agar rusuhan pasca Pemilu pada malam 21 Mei lalu tidak berulang, yang menyaksikan enam terkorban manakala ratusan lagi cedera.

Seperti kata jurucakap perundangan TKN, Razman Arif Nasution yang meminta masyarakat meyakini proses yang berlangsung di MK.

“Cukup-cukuplah menterjemahkan demokrasi secara jalanan, kita masuk ke dalam (Dewan Perwakilan) untuk kita bersuara di dalam,” tegasnya.